Modus penipuan di jalanan semakin banyak ragamnya. Dari anak baru gede
alias ABG sampai nenek-nenek yang berniat jahat punya trik buat
menggondol harta korbannya di jalan.
Kalau tidak hati-hati, bisa-bisa kita jadi korbannya. Agar lebih
waspada simak 7 modus penipuan di jalanan yang mungkin kamu enggak
tahu berikut ini:
Quote:
Quote:
1. Pura-pura ribut
Quote:
Jika ketemu orang ribut di jalan yang sepi malam-malam, mending ga
usah digubris. Takutnya itu adalah modus buat merampok pengendara yang
berhenti buat misahin mereka. Sebab, sudah ada beberapa kejadian
seperti itu.
Sindikat ini biasanya pakai mobil dan motor. Sopir mobil dan motor
bakal terlihat adu argumentasi sampai memaki-maki dan adu jotos buat
menarik perhatian pengendara lain. Setelah ada pengendara yang coba
misahin, turun 2-3 orang dari belakang mobil sambil bawa senjata.
Akhirnya, kendaraan orang yang misahin kericuhan itu diambil
orang-orang tersebut. Kalau sudah ditodong senjata, ya hanya bisa
pasrah orang itu nyerahin kendaraannya. Daripada nyawanya melayang.
Quote:
Quote:
2. Jatuhin cek
Quote:
Ini terhitung modus baru penipuan di jalanan. Kalau kamu menemukan
amplop berisi cek senilai ratusan juta atau bahkan miliarn rupiah,
jangan senang dulu. Bisa saja itu cek palsu yang dipakai penipu buat
menjebak calon korbannya.
Penipu yang pakai modus ini sengaja membuang amplop berisi cek dengan
surat yang dilengkapi nama dan nomor teleponnya. Ketika orang
menemukan amplop ini, pasti dia berusaha menghubungi nomor telepon di
surat itu. Nah, saat itulah si penipu beraksi.
Dia bakal menjanjikan sejumlah duit imbalan kepada orang yang
menemukan cek itu. Tapi, ada syaratnya. Dia akan meminta detail
rekening si penemu cek, misalnya bank, nomor rekening, sampai jumlah
duit di rekening dan PIN ATM.
Sepertinya si penipu pakai ilmu gendam via telepon. Korbannya biasanya
nurut-nurut saja dituntun ke ATM untuk disuruh mentransfer duit ke
rekening si penipu. Kalau nemu cek semacam ini dan setelah menelepon
ternyata disuruh macam-macam, langsung tutup saja teleponnya.
Quote:
Quote:
3. Rem berasap
Quote:
Kalau penipuan dengan modus rem berasap banyak terjadi di wilayah
dataran tinggi, terutama Puncak, Bogor. Modus ini banyak menimpa
pengendara mobil yang tengah menuju Puncak. Biasanya pengendara ini
baru sekali ke Puncak, jadi pengalamannya minim.
Penipu yang pakai modus ini adalah pengelola bengkel di Puncak. Mereka
beraksi dengan menyiramkan air sabun ke knalpot yang menimbulkan asap.
Saat ada asap, akan muncul pengendara motor yang mengingatkan sopir
mobil itu bahwa remnya mengeluarkan asap, padahal asap keluar dari
bagian knalpot.
Setelah sopir menepi, pengendara motor itu pura-pura membantu tapi
ujungnya bilang, "Wah, harus diganti ini udah rusak." Terus sopir
mobil bakal dibimbing ke bengkel terdekat dan digetok dengan harga
mahal untuk sebuah spare part yang belum tentu asli juga.
Modus ini sudah lazim terjadi di Puncak. Jadi kalau ketemu orang
teriak-teriak remnya rusak atau apa pun, cuekin saja. Bilang saja kamu
sudah punya asuransi mobil yang akan mengurus semuanya biar dia ga
terus mengikuti.
Quote:
Quote:
4. Sengaja nyenggol
Quote:
Modus sengaja nyenggol ini dilakukan pengendara motor secara
berkomplot. Biasanya mereka menyasar pengemudi mobil perempuan, karena
dianggap lebih gampang diperdaya.
Modus ini dijalankan pertama-tama oleh seorang pemotor yang sengaja
nyenggol mobil calon korbannya kemudian ngotot minta ganti rugi. Dia
bakal mengaduh kesakitan dan beralasan kakinya dulu pernah dioperasi.
Dia juga mengancam akan membawa kasus itu ke polisi.
Kalau pengemudi mobil kukuh ga mau ganti rugi, bakal datang 2-3
temannya yang mengaku sebagai saksi kecelakaan itu. Mereka bakal
menakut-nakuti si sopir agar membayar ganti rugi saja daripada nombok
di polisi. Mereka juga ikut menuding bahwa si sopirlah yang salah.
Jika mengalami kejadian seperti ini, jawab saja tantangan si pemotor
buat bawa kasus ini ke polisi. Kalau kamu merasa benar dan surat-surat
lengkap, tantang balik dia untuk saat itu juga ke polisi. Dia pasti
jiper dan memilih ngibrit meninggalkan TKP.
Quote:
Quote:
5. Debt collector gadungan
Quote:
Kasus debt collector gadungan ini sering menimpa orang yang membeli
sepeda motor dengan cara kredit. Komplotan mata elang itu biasanya
memiliki akses ke data kredit leasing tertentu.
Modusnya, mereka terdiri atas 5-6 orang bergerombol di pinggir jalan
sambil pegang handphone communicator zaman dulu. Mereka tampak seperti
mengecek pelat nomor setiap kendaraan yang lewat. Setelah nemu
pengendara yang berpotensi jadi korban, mereka langsung tancap gas.
Empat orang dengan sepeda motor tanpa pelat di belakang bakal memepet
si korban dan memberhentikannya. Kemudian mereka akan menginterogasi
korban dan menyatakan kredit motor itu bermasalah, walau si korban
beli motor dengan cara cash sekalipun.
Ujungnya adalah mereka bakal memaksa menyelesaikan masalah ini di
"kantor". Lalu salah satu di antara mereka akan membawa motor korban
dan ngacir ke kantor yang entah berada di mana, sementara korban
ditinggal sendirian.
Kalau ketemu kasus kayak gini, jangan kabur karena bakal dikejar
mereka. Berhenti saja di tempat yang ramai dan langsung masukkan kunci
motor ke saku. Tanggapi santai pertanyaan-pertanyaan mereka dan minta
bukti bahwa motor itu bermasalah.
Quote:
Quote:
6. Jual barang di jalan
Quote:
Modus ini dilakukan oleh satu orang di jalan yang memasang tampang
minta dikasihani. Dia akan menawarkan barangnya, seperti arloji atau
handphone, kepada pejalan kaki yang ditemui dengan alasan tak punya
ongkos pulang.
Dia bakal menggunakan dalih macam-macam, seperti habis dijambret.
Ujungnya, dia meminta barangnya dibeli dengan harga jauuuh di bawah
harga pasar. Misalnya hape Samsung Galaxy Young dihargai Rp 100 ribu.
Saat dicek, hape ini terlihat meyakinkan, asli. Tapi begitu sudah
deal, dia akan meminta izin melepas SIM card tapi dengan triknya
menukar hape itu dengan hape replika yang udah disiapkan di tas atau
kantong.
Bila ketemu orang semacam ini di jalan, simpan dulu rasa kasihan kita.
Kalau omongannya sudah menjurus ke modus di atas, bilang saja, "Maaf,
saya sudah tahu," lalu kabur.
Quote:
Quote:
7. Nenek kehabisan ongkos
Quote:
Modus yang satu ini mirip dengan modus jual barang, hanya pelakunya
biasanya nenek-nenek renta. Dia biasanya beraksi di jalanan atau
angkutan umum.
Pertama-tama, dia bakal menegur orang di jalan lalu bertanya alamat.
Kemudian dia mengeluh mencari alamat orang ga ketemu-ketemu sampai
kehabisan ongkos. Ujungnya, "Kalau ada duit seikhlasnya, Nak, buat
nenek pulang ke (menyebut nama daerah yang jauh dari TKP)".
Kalau terjadi di angkutan umum, Metro Mini, misalnya, si nenek bakal
beraksi dari kursi belakang lalu berpindah-pindah sampai kursi depan.
Kepada setiap penumpang dia akan menceritakan kisah sedihnya itu agar
mendapat duit.
Memang, tak semua yang mengaku kehabisan ongkos di jalan adalah
penipu. Tapi kalau modusnya sudah mirip kayak di atas, kita pantas
curiga. Kalau mau bersedekah, mending yang pasti-pasti saja, seperti
ke panti asuhan atau panti jompo.
Quote:
Selain ketujuh modus penipuan di jalanan di atas, mungkin ada modus
lain yang belum begitu populer sehingga belum terdeteksi masyarakat.
Ketika berada di jalanan, kita wajib selalu waspada karena ancaman
bahaya selalu ada. Sumber asli tulisan ada di:
http://m.kaskus.co.id/thread/553df44c32e2e6ed188b4575
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silakan komeng agan sanagt ditunggu