Rabu, 29 April 2015

gimanasih rasanya jadi algojo hukuman mati?

Merdeka.com -Para personel Brimob Polda Jateng mendapat tugas
mengeksekusi para terpidana mati di Nusakambangan. Bukan perkara mudah
menjadi eksekutor sebuah hukuman mati. Bagaimana perasaan mereka saat
menembak mati para terpidana tersebut?
Seorang anggota Brimob yang menjadi eksekutor hukuman mati gelombang
pertama mengisahkan pengalamannya. Dia bertugas menembak seorang
terpidana pada 8 Januari lalu.
Menurutnya lebih mudah menarik pelatuk. Yang lebih sulit adalah saat
harus menyentuh korbannya langsung. Sang algojo harus mengikat tubuh
calon korbannya di sebuah tiang dengan tali.
"Beban mental yang lebih berat itu adalah petugas yang harus mengikat
terpidana, ketimbang algojo penembak," kata dia, seperti dilansir
surat kabar the Guardian, pekan lalu. "Soalnya mereka bertanggung
jawab untuk membawa terpidana dan mengikat kedua tangan mereka sampai
akhirnya mereka mati."
Sang algojo yang juga anggota Brimob itu tidak mau disebutkan namanya
karena kasus ini cukup sensitif.
Selain dibebani tugas rutin, anggota Brimob juga ditugasi menjadi
eksekutor terpidana mati. Mereka dibayar kurang dari Rp 1,3 juta untuk
menjalankan tugas ini.
Saat ditanya bagaimana perasaannya ketika menjadi salah satu algojo
penembak, dia mengatakan "Ini akan jadi rahasia seumur hidup."
Ketika didesak lagi, dia terdiam beberapa saat.
"Sebagai seorang anggota Brimob saya harus melakukannya dan saya tak
punya pilihan," kata dia seraya mengusap matanya dan menatap ke arah
langit.
"Tapi sebagai manusia, saya tidak akan melupakan kejadian ini seumur
hidup," kata dia, seperti dilansir news.com.au, Rabu (11/3).
Dalam pelaksanaan hukuman mati ini ada dua tim yang ditugaskan. Tim
pertama adalah yang membawa terpidana ke tiang buat diikat. dan Tim
kedua adalah penembak. Anggota Brimob itu mengatakan dia sudah pernah
berada di kedua tim itu.
"Kami melihat terpidana itu dari dekat, dari saat mereka masih hidup,
berbicara, hingga mereka mati. Kami tahu persis semua kejadian itu."
Lima anggota Brimob ditugaskan untuk mengawal setiap terpidana, dari
mulai membawa mereka keluar sel hingga menggiring merek ke tiang.
Petugas mengatakan terpidana bisa memilih untuk menutup wajah mereka
sebelum diikat supaya posisi mereka tidak bergerak saat berdiri di
tiang.
Dengan tali tambang mereka mengikat terpidana ke tiang dalam keadaan
berdiri atau berlutut sesuai keinginan mereka.
"Saya tidak berbicara dengan terpidana. Saya perlakukan mereka seperti
keluarga sendiri. Saya hanya bilang, "Maaf, saya hanya menjalankan
tugas."
Para terpidana mati itu akan memakai baju berwarna putih dan jika mau
mata mereka bisa ditutup.
Di tengah kegelapan malam, cahaya obor akan menerangi lingkaran
berdiameter 10 sentimeter tepat di jantung mereka.
Pasukan penembak yang terdiri dari 12 orang akan berdiri sekitar lima
hingga sepuluh meter dan menembakkan senapan M16s saat diperintah.
Para algojo itu dipilih berdasarkan kemampuan menembak dan kondisi
mental serta kebugaran fisik. Mereka menembak secara bergiliran.
"Semua beres kurang dari lima menit," kata dia. "Setelah ditembak,
terpidana itu akan lemas karena sudah tidak bernyawa."
Seorang dokter memeriksa korban untuk memutuskan apakah dia sudah mati
atau belum. Jika belum maka petugas akan menembak terpidana di kepala
dalam jarak dekat. Korban kemudian akan dimandikan dan dimasukkan ke
dalam peti mati.
Algojo itu mengatakan dia hanya menjalankan tugas berdasarkan aturan hukum.
"Saya terikat sumpah prajurit. Terpidana sudah melanggar hukum dan
kami hanya algojo. Soal apakah ini berdosa atau tidak kami serahkan
kepada Tuhan.
Setelah melaksanakan eksekusi, petugas menjalani bimbingan spiritual
dan psikologi selama tiga hari. Seorang algojo juga diberi batas
maksimal jumlah eksekusi yang bisa dilakukannya.
"Kalau cuma sekali atau dua kali tidak masalah, tapi kalau harus
berkali-kali bisa mempengaruhi secara psikologi," kata dia.
"Saya inginnya tidak terus-terusan menjadi algojo. Saya juga tidak
suka melakukannya. Jika ada anggota lain, biar mereka saja."
Suatu hari dia berharap bisa melupakan semua ini. "Saya harap mereka
beristirahat dengan tenang," kata dia. "Begitu pula saya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silakan komeng agan sanagt ditunggu